Di Indonesia, budaya ‘sungkan’ dan kecenderungan berbasa-basi telah menjadi bagian penting dalam interaksi sosial. Namun, pendekatan ini, meskipun sering kali bertujuan baik, dapat menjadi penghalang dalam komunikasi yang efektif, terutama dengan individu yang berada dalam spektrum autisme atau yang dikenal sebagai neurodivergen. Alih-alih berfokus pada memahami, sebagian besar dari kita justru sibuk dengan pola interaksi normatif yang kurang inklusif bagi mereka yang berpikir dan memproses informasi secara berbeda.
Tantangan Budaya Sungkan di Indonesia
Budaya sungkan, atau merasa enggan untuk melakukan sesuatu yang dianggap tidak sopan atau tak lazim, sering membuat komunikasi menjadi kaku dan tidak berterus terang. Dalam konteks neurodivergen, pendekatan yang terlalu banyak berbasa-basi malah dapat membingungkan karena individu dengan autisme sering kali lebih menyukai interaksi yang langsung dan jujur. Mereka mungkin tidak dapat menangkap petunjuk sosial yang tersembunyi yang seharusnya diinterpretasikan melalui sikap sungkan atau basa-basi.
Fenomena Basa-basi yang Mendominasi
Basa-basi merupakan elemen komunikasi yang mendominasi di Indonesia. Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa menghindari konfrontasi langsung atau memberikan pujian palsu untuk menjaga perasaan lawan bicara adalah cara yang paling tepat. Namun, dalam berkomunikasi dengan individu autis, basa-basi semacam ini bisa menjadi jebakan. Mereka bisa jadi mengalami kesulitan dalam membaca nuansa dan lebih mengutamakan kejelasan dibandingkan basa-basi rumit yang tidak selalu dimengerti dengan mudah.
Pentingnya Memahami dari Perspektif Neurodivergen
Memahami bagaimana cara berpikir dan berkomunikasi individu neurodivergen adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan suportif. Alih-alih memaksa mereka untuk menyesuaikan diri dengan norma komunikasi yang kaku, alangkah baiknya kita mencoba melihat dari perspektif mereka. Setiap individu autis adalah unik dan memiliki beragam cara dalam mengekspresikan diri serta memahami informasi. Kesadaran ini mengajarkan kita pentingnya fleksibilitas dan empati dalam berkomunikasi.
Melampaui Perbaikan Menuju Pemahaman
Sayangnya, pendekatan umum terhadap autisme sering kali berpusat pada “perbaikan” dari perilaku yang dianggap tidak sesuai norma sosial. Padahal, yang lebih dibutuhkan adalah upaya untuk memahami dan menerima perbedaan. Dengan membangun kesadaran tentang cara berinteraksi yang sesuai sesuai kebutuhan masing-masing individu, maka hubungan sosial dapat berjalan lebih lancar dan bermanfaat kedua belah pihak tanpa harus mengabdi pada norma-norma komunikasi yang kaku.
Menjembatani Kesenjangan Komunikasi
Kita perlu mengedukasi masyarakat luas tentang perlunya metode komunikasi yang inklusif dan tepat bagi neurodivergen. Ini termasuk penerapan pendekatan yang lebih langsung dan pemahaman bahwa perilaku atau bahasa yang tidak sesuai harapan umum bukanlah kesalahan komunikasi, melainkan cara unik penyampaian informasi. Upaya edukasi ini harus menjadi agenda utama dalam program-program pendidikan dan pelatihan.
Kunci Menuju Komunikasi yang Inklusif
Kunci utama menuju komunikasi yang lebih inklusif adalah empati dan keterbukaan terhadap berbagai bentuk komunikasi yang ada. Menumbuhkan pemahaman budaya dan meningkatkan kesadaran bahwa setiap individu berhak untuk diekspresikan dan dipahami berdasarkan cara natural mereka sendiri adalah langkah awal. Komunikasi efektif dengan neurodivergen tidak hanya memerlukan penyesuaian bahasa atau gerak tubuh, tetapi juga sebuah pemahaman dan penerimaan secara mendalam terhadap siapa mereka sebenarnya.
Membangun Masa Depan Komunikasi yang Berimbang
Kesimpulannya, budaya sungkan yang terlalu berlebihan dan dominasi basa-basi dalam interaksi sosial kita tidak selamanya cocok bagi semua orang, terutama bagi komunitas neurodivergen. Perubahan menuju komunikasi yang lebih berimbang dan inklusif harus menjadi prioritas jika kita ingin membangun masyarakat yang lebih sadar dan responsif terhadap kebutuhan semua individu. Dengan memahami bahwa komunikasi tidak hanya soal kata-kata, tetapi juga soal penerimaan dan adaptasi, kita dapat membuka jalan bagi interaksi yang lebih manusiawi dan mendalam.

